Bahaya Rokok Bagi Kelompok Rentan

Jakarta 14 Agustus 2018, saya menghadiri undangan yang diberikan oleh Founder Komunitas Sahabat Blogger Ibu Sumiyati Sapriasih perihal “Jauhkan Kelompok Rentan dari Rokok” yang disupport sepenuh nya oleh KBR (Kantor Berita Radio) perbincangan ini dapat anda simak melalui 104 radio jaringan KBR diseluruh Indonesia. Talk show berlokasi di Hotel Grand Cemara Menteng Jakarta Pusat.

Jauhkan Kelompok Rentan dari Rokok. Opi Rahmita

Dengan nara sumber :
1. Bapak Dr. Abdillah Ahsan sebagai Wakil kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB Universitas Indonesia
2. Bapak Dr. Arum Atmawikarta, MPH sebagai Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas

Jauhkan Kelompok Rentan dari Rokok. Opi Rahmita Property

Sejarah Rokok
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung Negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun – daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.

Source Google. Opi Rahmita

Rokok dijual dalam bentuk ketengan dan bungkusan berbentuk kotak atau kemasan. Rokok merupakan zat addictive yang membuat penikmat rokok merasa ketagihan. Bahkan ketergantungan, sebagaian kaum dan kalangan tidak dapat bekerja atau berkreatifitas tanpa menghisap rokok terlebih dahulu. Dan yang sangat disayangkan Rokok saat ini menjadi Kebutuhan dari pada pangan. Ada pula yang lebih baik tidak makan yang penting tetap merokok.
Namun dibalik kenikmatan menghisap asap rokok tersebut dapat membahayakan kesehatan kita. Jadi Bagaimana asal mula nya Rokok?
Begini cerita nya, Kegiatan yang melibatkan tembakau pertama kali dilakukan oleh suku Maya Aztec dan Indian di benua yang sekarang kita kenal sebagai Negara adikuasa yaitu Amerika, sejak lebih dari seribu tahun sebelum masehi tradisi membakar dan mengunyah tembakau sebagai bentuk penghormatan dan symbol persaudaraan.

Source Google. Opi Rahmita

Ketika beberapa suku berkumpul dan dan setelah kedatangan Columbus ke Amerika, tradisi merokok dengan membakar tembakau mulai dikenal di dataran Eropa. Ternyata seorang diplomat asal Perancis bernama Jean Nicot lah yang memiliki andil paling besar dalam hal pesebaran rokok di seluruh Eropa. Bahkan kandungan utama dalam rokok yakni nikotin juga diambil dari nama nya (Nicot).

Rokok di Indonesia
Kisah kretek bermula dari kota Kudus. Menurut kisah yang hidup dikalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke 19. Awal nya penduduk asli kudus ini merasa sakit pada bagian dada (sesak) kemudian ia mengoleskan minyak cengkeh setelah itu sakit nya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk di linting menjadi rokok.
Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi daganan memikat ditangan Nitisemito, perintis industry rokok di kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908 usahanya resmi terdaftar dengan merek “Tjap Bal Tiga” bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industry rokok kretek di Indonesia.

Source Google. Opi Rahmita

Bahaya Rokok bagi bagi Kelompok Rentan
Serial rokok harus mahal diselenggarakan untuk mengingatkan harga rokok yang murah membuat konsumsi rokok semakin tak terkendali, termasuk pada anak – anak dan keluarga miskin. Kelompok rentan bisa dikategorikan dalam aspek kesehatan yaitu Ibu Hamil. Ibu Menyusui, Bayi dan Balita dan penderita penyakit yang disebabkan oleh asap rokok.

Bahaya Rokok bagi Ibu Hamil. Source Google. Opi Rahmita

Namun dalam kelompok rentan yang paling luas lagi adalah kelompok yang miskin yaitu yang berpendapatan yang menurut hasil survey BPS baru saja diumumkan sekitar 9,7% kelompok rentan yang perlu kita lindungi. Dan juga kelompok marginal lain yaitu kelompok yang tinggal diderah daerah sulit dan terpencil.
Mengapa kelompok Rentan harus dijauhi dari Rokok?
Menurut data BPS itu secara konsisten menunjukan bahwa ternyata pengeluaran dari kelompok penduduk miskin untuk rokok itu besar sekali. Sehingga jika keluarga itu dikategorikan miskin maka dia mengeluarkan uang yang banyak sekali untuk membeli rokoknya. Data tersebut sangat konsisten semenjak tahun 2004 hingga saat ini data terbaru tahun 2018. Keluarga miskin membelanjakan uang nya yang pertama yaitu untuk beras. Kedua yaitu rokok. Kemudian lebih kecil dari pengeluaran keluarga misalnya untuk kesehatan, pendidikan.
Menurut Bapak Dr. Arum Atmawikarta, berdasarkan data yang kita amati terus dari yang susenas sampai sekarang, untuk beras pengeluaran nya sekitar 22%, pengeluaran rokok tiap keluaga 12 – 17% setelah itu baru pendidikan sekitar 3%. Kemudian kesehatan sekitar 3%. Artinya ibu ibu atau keluarga membelanjakan lebih banyak rokoknya dari pada memberikan makanan yang lebih baik kepada anggota keluarga nya.
Muncul begitu banyak pertanyaan dalam benak saya.

Source Google. Opi Rahmita

Ketika sebuah Negara berdiri kokoh dengan berbagai macam bentuk keteraturan literasi budaya dan konstitusi sehingga kita sebagai bangsa yang besar mempunyai tanggung jawab untuk mensejahterakan dan menciptakan generasi yang sadar akan kesehatan. Berbagai kegiatan parenting yang sering saya kunjungi mayoritas kelompok rentan (Ibu Hamil, Ibu menyusi, anak anak dan balita) selalu mendapat perhatian khusus atau specials treatment untuk diberikan asupan nutrisi yang baik.
Sisi lain dilematis sebuah Negara yaitu ketika penghasilan perkapita terbesar sebuah Negara dihasilkan dari produsen. Apakah ini adalah sebuah pertanyaan? Bagaimana segala aspek bersinergi agar mendukung kesehatan kelompok juga mendukung sepenuhnya pendapatan Negara dari produsen yang dapat mendukung kesehatan sebuah Negara. Bagaimana menurut anda?
Menurut penjelasan Bapak Dr. Arum Atmawikarta terjadi pengelompokan usia merokok setelah melakukan survey BPS diantara nya yaitu usia dibawah 15 tahun dan diatas 18 tahun. Tetapi dalam indicator SDG’s atau Sustainable Development Goals memperoleh data presentase anak anak angka nya cukup tinggi dan setiap tahun terus meningkat. Karena rokok itu sifat nya adiksi sehingga sulit untuk dihentikan sampai diusia segmented tua sekalipun dibutuhkan kesadaran tingkat tinggi untuk berniat berhenti merokok.
Penelitian ini sudah dilakukan di berbagai Negara bahwa salah satunya dengan menggunakan mekanisme pengendalian harga. Dan itu sudah terbukti bahwa di berbagai Negara jika harga rokok dinaikan 10% maka terutama pada penduduk miskin itu akan drop.

 

Rokok harus mahal. Opi Rahmita Property

Menurut saya ketika rokok harus mahal sebagian pekerja dari kalangan miskin yang benar benar bergantung kreatifitas hidup nya pada rokok. Sehingga dapat mengakibatkan potensi kekhawatiran criminal ketika rokok harus mahal. Karena daya beli yang sudah tidak mampu. Kemudian akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan rokok sebagai kebutuhan utama. Ini dilema.
Pertanyaan selanjutnya yang muncul dibenak saya adalah seberapa serius pemerintah menangani Rokok harus mahal ini? Jadi pemerintah ini adalah mandataris rakyat. Pemerintah adalah pengemban keputusan rakyat. Keputusan rakyat ditulis dalam sebuah konstitusi. Dan konstitusi mengamanatkan bahwa konsumsi harus dikendalikan atau dikurangi. Mulai dari UUD 1945 dijelaskan tentang hak sehat. Hak asasi untuk mendapat hak hidup sehat. Hak menghirup udara segar.
Kemudian undang undang Bea Cukai mengatakan bahwa tariff cukai untuk mengendalikan konsumsi rokok. Dari kementrian kesehatan ingin mengendalikan konsumsi rokok namun dikhawatirkan dicekal oleh kementrian pertanian, kementrian perekonomian, kementrian keuangan yang menjalankan amanah undang undang yang berisi tentang mengendalikan rokok.
Setelah ini muncul sesi Tanya jawab baik off air maupun on air. Saya mengajukan pertanyaan. Berikut pertanyaan saya.

Pertanyaan dari Ibu Opi Rahmita

Berikut ini jawaban dan penjelasannya yaitu :
Jadi secara garis besar ketika kita ingin membatasi atau mengendalikan rokok memang terdapat 3 kebijakan yang betul betul harus diterjemahkan pada keadaan atau kehidupan nyata.
1. Mencegah konsumsi rokok. Artinya bagi yang belum pernah mengkonsumsi rokok. Diharapkan agar tidak mencoba, anak anak dibawah usia 15 tahun.
2. Memperkecil akses atau kemudahan dalam mendapatkan rokok. Misalnya dilingkungan sekolah dilarang menjual rokok
3. Membantu orang yang sudah kecanduan rokok. Ini yang sulit tapi tetap harus diupayakan.

Berikut ini adalah 8 masalah kesehatan yang dapat muncul akibat kebiasaan merokok :
1. Kanker lebih dari 60 kimia yang terkandung dalam rokok bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker. Asap rokok dapat meningkatkan radikal bebas dalam tubuh dan memicu pertumbuhan sel tidak normal.

Testimoni dari seorang Bapak yang menderita Kanker Pita Suara. Opi Rahmita Property

2. Penyakit Paru Obstruktif Kronik penyakit paru obstruktif Kronik (PPOK) merupakan gangguan pernafasan kronik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, 92% pasien PPOK memiliki riwayat meroko.

3. Jantung sebagian besar pasien penyakit jantung koroner atau pernah terkena serangan jantung adalah perokok. Rokok mengandung zat beracun yang menyebabkan kerusakan struktur otot jantung dan pembuluh darah jantung.

4. Stroke kandungan asap rokok salah satunya nikotin bisa merusak pembuluh darah dan Aliran darah termasuk di otak.

5. Kulit keriput kebiasaan merokok juga bisa menimbulkan masalah kesehatan kulit. Kandungan radikal bebas dapat membuat kulit keriput dan kusam. Dengan kata lain rokok dapat membuat penuaan dini.

6. Hipertensi kandungan nikotin dalam rokok bisa menyebabkan pembuluh darah menyempit dan keras karena penumpukan plak. Kondisi ini memompa jantung bekerja lebih cepat dan memicu hipertensi atau darah tinggi.

7. Diabetes asap rokok mengandung radikal bebas bisa mengganggu kinerja insulin yang dihasilkan pancreas. Insulin dibutuhkan tubuh untuk mengubah glukosa menjadi energy.

8. Gangguan kehamilah dan janin merokok sangat berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandung nya. Ibu hamil yang merokok atau sering terpapar asap rokok dapat menghambat pertumbuhan bayi karena kandungan nikotin bisa menghalangi asupan nutrisi dan oksigen ke bayi melalui plasenta.

Komunitas sahabat Blogger. Opi Rahmita

Demikian ulasan saya tentang Bahaya Rokok bagi kaum rentan. Saya sebagai manusia yang berakal pada hakihat nya ingin hidup sehat, bahagia, makmur dan sejahtera. Saya sadar sepenuh jiwa ketika saya merokok baik aktif maupun pasif maka penyakit akan bermunculan dalam tubuh saya. Dan saya menjadi tidak produktif dan saya akan menyusahkan keluarga saya untuk merawat saya di rumah sakit. Selain itu perokok juga dapat menggangu ekosistem lingkungan udara segar juga sangat mengancam kehidupan orang sehat disekeliling nya. Saya ingin hidup sehat dan saya tidak merokok. Terima Kasih

Salam hangat,
Opi Rahmita

20 thoughts on “Bahaya Rokok Bagi Kelompok Rentan”

  1. Paling gemes dana si rokok. Saya sampai sering bete2an sama suami gara-gara si rokok ini. Mudah-mudahan saja suami bisa tercerahkan hatinya untuk berhenti merokok Aamiin. Kalau lihat bahayanya kan serem

  2. aku baru ngeh sejarah rokok di Indonesia setelah baca tulisan ini Mbak.. jadi nambah juga pengetahuanku soal bahaya rokok.. gak hanya kelompok rentan yg wajib dijauhkan dari rokok, tapi semua pihak harus sadar tentang dampak buruk rokok bagi kesehatan, sehingga tidak ada lagi keinginan untuk mengisapnya..

  3. Aku salah satu yang setuju banget sama Campaign stop rokok ini, sampe pernah aku jualan dulu waktu di kampung gak mau jual rokok meskipun kalian tau itu rokok adalah barang paling cepet lakunya di warung model kelontongan. Mantan suamiku juga bukan perokok, kita sekeluarga gak tahu kalo ada Asep rokok di sebelah ke hirup…

  4. Saya sedang menanti kapan pemerintah bener2 nerapin hal ini mbak. Jd gak cuma terbatas serial dan wacana ya mbak.
    Sebel liat org merokok di tempat umum yg jelas2 dilarang merokok 🙁

  5. Waah baru tahu sejsrah rokok di Ibdoensia sepertu itu yaa mbaa thanks for sharing. Aku srtuju banget ROKOK HARUS MAHAL. Lagipulan aku sagat ga suka asap rokok huh

  6. Aku paling sebel deh sama perokok aktif yang kurang memperhatikan sekitarnya. Jadi kalau ada yang merokok aku lebih baik menghindar dan gak negor mereka karena itu hak mereka

  7. Aku sih setuju banget mba klo rokok harus mahal. Supaya gak banyak lagi yg konsumsi rokok. Aku bete. Meski ada larangan ngerokik di tempat umum, masih ada aja yang ngerokok sembarangan. Ganggu banget kan untuk kita yang ada di sekitar situ.

  8. setuju banget rokok harus mahal. kadang kesel banget kalau di tempat umum ada yang ngerokok, situ enak sini gak enak. moga dnegan diberlakukannya harga rokok yang mahal, akan mengurangi penyakit sebab polusi udara yang diakibatkan rokok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *